Sabtu, 06 Februari 2016

Dandelion di penghujung senja


Pagi mulai beranjak menggantikan malam yang gelap gulita. Seperti biasanya Haru bangun pagi. Di bukalah tirai yang menghalangi jendela guna memudahkan sinar mentari masuk menyinari kamarnya. Haru seperti biasa bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Ditataplah bingkai foto yang bertengger di meja tempat belajarnya.
“Sudah 6 tahun ya. Bagaimana apa kau bahagia di sana?” Gumamnya sendiri.
Ah lagi-lagi aku merasakan kesepian ini sendirian. Ku hela nafas yang semakin teras sesak di dada dengan kasar. Diambilnya tas yang menyampir di kursi sembari bangkit berdiri dan perlahan melangkahkan kedua kakinya satu persatu meninggalkan kamar. Selalu seperti ini, padahal 6 tahun sudah berlalu tapi tetap saja yang ku lihat hanyalah ruangan yang sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Ku langkahkan kaki menuju party dan langsung membuka lemari pendingin dengan segera sembari mengambil sekotak susu coklat dan 2 lembar roti tawar kismis. Setelah itu ku buka semua tirai secara otomatis dan langsung pergi meninggalkan apartemen yang hanya ku tinggali sendiri itu. 
Perjalanan yang begitu sepi meskipun kendaraan dan orang-orang berlalu lalang tanpa henti. Ah rasanya aku ingin kembali mengulang lagi masa SMA agar ku merasakan bahwa kehidupan ini tidak sesepi dan sehampa sekarang, tapi untuk apa aku terus bergulat dengan khayalan yang seperti itu. Lebih baik sekarang aku bergegas sampai ke tempat kerjaku dan tenggelam bersama milyaran kata yang ingin tertuang di atas kertas putih untuk dijadikan sebuah karya yang sangat berharga. Ah benar bekerja adalah satu-satunya cara agar aku tak larut lagi dalam keadaan yang seperti itu lagi.  
***
Waktupun tak terasa sudah mau menginjak sore hari. Ku lirik pergelangan tangan sebelah kiri untuk melihat jam. Ah ternyata sudah pukul 4 sore, ku bereskan semua peralatan di meja kerjaku dan bergegas untuk pulang. Akan tetapi sebelum itu ku putuskan untuk mampir dulu ke suatu tempat.
Sepanjang perjalanan ku berpikir, sekarang apalagi yang harus ku bawa dan ku lakukan ketika sampai di tempat itu. Haruskah ku menangis seperti yang sudah-sudah sembari menelungkupkan kepala pada kedua lututku. Atau haruskah ku lontarkan makian yang begitu tajam dengan begitu kejam meskipun hal tersebut akan menjadi sebuah kesia-siaan. Ah rumit sekali memikirkan semuanya. Daripada melakukan hal-hal yang sudah pernah ku lakukan lebih baik sekarang aku membeli bunga itu dan membawanya ke tempat yang sering aku kunjungi setiap  tanggal 21 Desember tiap tahunnya.
***
Ku dekap sebuah karangan bunga lili putih dengan penuh kebimbangan sembari melangkahkan kaki menapaki jalanan setapak yang menanjak ke atas sebuah bukit. Sekitar 10 menit melangkah dari bawah akhirnya aku sampai di atas bukit tersebut lalu ku langkahkan lagi kedua kaki ini menuju sebuah pohon rindang yang berdiri kokoh di pucuk bukit tersebut. ku hempaskan tubuhku di atas rerumputan di samping pohon tersebut. Ku tolehkan kepalaku ke sebelah kiri dan yang terlihat adalah ujung tebing yang curam yang langsung menuju ke laut di bawahnya terhampar seperti 2 warna yang berdampingan tanpa pernah tercampur. Lalu ku tolehkan lagi kepalaku ke seluruh penjuru bukit ini. Semuanya masih sama seperti 6 tahun lalu, akan tetapi sekarang hanya ada aku yang terbaring sendirian di atas bukit ini. Andaikan kau datang kembali dan menemui serta menemaniku di sini akankah rasanya berbeda? itulah yang selalu menjadi pertayaan di dalam kepalaku setiap tahunnya.
Sekitar 15 menit berlalu. Ku tegakkan kembali tubuhku dan mulai melangkah mendekati tebing yang di sebelah kiri. Tak lupa ku bawa rangkaian bunga yang ku beli tadi. Sesampainya di bibir tebing tersebut ku lemparkan rangkaian bunga tersebut membiarkannya jatuh ke bawah. Akhirnya bunga tersebut jatuh dan langsung di hempaskan oleh ombak yang mulai menggila menyambut senja yang semakin mendekat.
“ Apa kau senang melihatku seperti ini terus???? Hah jawab aku...hiks... Aku bosan... haruskah ku hentikan menunggumu di sini setiap tahunnya, dengan bodoh mengharapkanmu kembali lagi kepadaku. Hiks...hiks...Hah haruskah ku lakukan itu terus menerus. Jawab aku pembohong. Hiks...hiks...hiks......” Teriakku terpecahkan suara ombak di bawah sana.
Luruh sudah pertahananku dan pada akhirnya akupun terduduk sembari menelungkupkan kepala di antara kedua lututku sembari menangis dengan tersedu-sedu. Lontaran makian masih ku sebutkan sambil terus meringis memikirkan apa saja yang sudah ku lakukan selama ini. Ah andaikan waktu dapat di putar ulang aku akan memohon untuk bisa kembali ke masa 6 tahun lalu, akan tetapi itu semua tidak mungkin terjadi sampai kapanpun.
***
 Ku dongkakkan kepala lalu memutarkannya ke sebalah kiri dan yang ku lihat sekumpulan dandelion putih yang sudah siap berguguran sepertinya. Ku petik setangkai dandelion lalu ku pandangi bunga tersebut sambil membayangkan kenangan yang ku miliki denganmu dahulu. Lalu akupun menyunggingkan bibirku membuat sebuah senyuman yang mungkin terlihat sedikit sinis. Baiklah ku putuskan untuk meniupnya. Semoga dengan begitu aku mampu menghapus setiap kenangan yang pernah kau torehkan di kehidupanku. Ah bulu-bulu dandelion itupun perlahan berguguran dan terbang meninggalkan tangkainya di bawa hembusan angin yang terasa dingin dan hangat di saat yang bersamaan. Pergi menyebrangi lautan dan sampai di suatu daratan mungkin. Atau malah jatuh di tengah lautan dan tenggelam masuk ke dalamnya.
Aku tau orang yang sudah pergi meninggalkan dunia ini tak mungkin dapat kembali lagi meskipun kau melakukan apapun. Dan karena itu aku pun mulai tersadar bahwa ketika kita melakukan semuanya dengan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan itu tidak akan terasa menyenangkan akan tetapi itu akan terasa menyakitkan dan mengekecewakan yang jelas tak akan ada ujungnya. Tapi ketika kita menyadari yang harus kita lakukan itu dengan cara melakukannya secara ikhlas dan sabar serta mendasari semuanya itu dengan percaya diri bahwa apa yang sudah kita dapatkan adalah hal yang terbaik untuk kita maka itu akan terasa membahagiakan meskipun di awalnya terasa menyakitkan.
Ku tegakkan tubuhku kemudian dengan perlahan ku pandangi hamparan alam yang terhampar di depanku dan ku tarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya secara perlahan kemudian ku sunggingkan senyuman tulus yang sudah lama tak ku lakukan. Perlahan ku balikkan tubuhku dan mulai melangkah meninggalkan tempat tersebut untuk pulang meninggalkan deburan ombak di bawah sana dan sekumpulan dandelion yang berguguran di ujung tebing curam di bawah langit senja yang mulai berterbangan di bawa angin untuk pergi ke tempat yang lebih baik dan baru serta mungkin membawa setiap kenangan, penyesalan dan harapan yang tak pernah dapat ku wujudkan sampai mati menjemputku.
***
 Dandelion di penghujung senja itu biarlah menjadi saksi alam yang menyaksikan perjalanan hidupku mulai saat ini. Baiklah akan ku ubah semuanya bukan kemenangan yang akan menjadi tujuan akhirku, akan tetapi hal-hal yang mendasari dan segala apa yang sudah ku lakukan untuk melalui perjalanan kehidupan ini. Jadi tetaplah tersenyum, ikhlas dan bersabar menjalani perjalanan ini serta yakin dan percayalah pada dirimu disertai rasa syukur akan semua yang kau miliki dan dapat kau lakukan.
***
Haru pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Tanpa menyadari sesorang yang bersembunyi di balik pohon sambil menutup mulut menggunakan tangannya dengan air mata yang luruh membasahi pipinya. Kemudian setelah Haru tak terlihat robohlah pertahanan diri yang dia tahan dari tadi. Menyebabkan dirinya terduduk dan terlihat menyedihkan untuk ukuran seorang pria.
“Aargh.......Hiks...Maafkan....aku....Maaf.....Maaf....Maa....aaff....Aargh......” Racauan pria itu tak terkendali.
Sekilas Haru membalikkan tubuhnya menatap ke atas bukit, tapi kemudian berbalik lagi dan melangkah untuk benar-benar pergi meninggalkan semuanya di tempat tersebut. Hatinya merasakan kehadiran orang itu lagi. Tapi ia sudah bertekad melupakan dan membiarkan semuanya memudar dan menghilang dengan perlahan tanpa berniat mengenangnya lagi. Seorang pria lainpun menghampiri pria yang tengah terduduk sambil menangis merenungi semua yang telah ia lakukan kepada gadis tadi. Perlahan pria itupun menepuh pundak temannya
“Sudahlah ikhlaskan semua yang telah terjadi. Jika ia memang takdirmu, ia akan kembali kepadamu. Bukankah itu yang selalu kau bilang kepadaku. Ayo kita pergi tinggalkan negara ini. Semuanya telah kau putuskan 6 tahun lalu. Jadi kenapa harus disesali. Ayo.” Ucap pria itu sembari merangkul pundak sahabatnya dan mulai memapah tubuh lemah sahabatnya itu untuk meninggalkan tempat tersebut.
Mereka berdua pun beranjak meninggalkan tempat tersebut sembari membisu tak ada yang berniat untuk mulai berbicara seorang pun, seolah hanya angin dan deburan ombak saja yang berbicara. Dandelion pun gugur tak bersisa terbang menembus alam raya ini. Mereka menuju sebuah mobil mewah yang sudah terbuka pintu belakangnya oleh seorang bodyguard.
“Tuan, ayo kita berangkat. Pesawat akan lepas landas dalam waktu 15 menit lagi. Saya mohon agar anda dapat segera masuk dan berangkat.” Ucap seorang bodyguard di depan pria yang sedang di papah oleh teman prianya.
Dengan segera kedua pria tersebut pun memasuki mobilnya dan pengawalnya pun bergegas meninggalkan tempat tersebut.
“ Maaf aku harus benar-benar menghilang dan pergi dari pandanganmu. Sekali lagi maafkan aku. aku mohon.” Ucapnya sembari menatap senja yang mulai menghilang di balik kaca jendela mobilnya yang sudah melaju dengan cepat di jalan raya yang terlihat sedikit ramai.

end or tbc
***