Pagi mulai beranjak menggantikan malam yang gelap gulita. Seperti biasanya
Haru bangun pagi. Di bukalah tirai yang menghalangi jendela guna memudahkan
sinar mentari masuk menyinari kamarnya. Haru seperti biasa bersiap-siap untuk
berangkat ke kantor. Ditataplah bingkai foto yang bertengger di meja tempat
belajarnya.
“Sudah 6 tahun ya. Bagaimana apa kau bahagia di sana?” Gumamnya
sendiri.
Ah lagi-lagi aku merasakan kesepian ini sendirian. Ku hela nafas
yang semakin teras sesak di dada dengan kasar. Diambilnya tas yang menyampir di
kursi sembari bangkit berdiri dan perlahan melangkahkan kedua kakinya satu
persatu meninggalkan kamar. Selalu seperti ini, padahal 6 tahun sudah berlalu
tapi tetap saja yang ku lihat hanyalah ruangan yang sepi tanpa ada tanda-tanda
kehidupan. Ku langkahkan kaki menuju party dan langsung membuka lemari
pendingin dengan segera sembari mengambil sekotak susu coklat dan 2 lembar roti
tawar kismis. Setelah itu ku buka semua tirai secara otomatis dan langsung
pergi meninggalkan apartemen yang hanya ku tinggali sendiri itu.
Perjalanan yang begitu sepi meskipun kendaraan dan orang-orang
berlalu lalang tanpa henti. Ah rasanya aku ingin kembali mengulang lagi masa
SMA agar ku merasakan bahwa kehidupan ini tidak sesepi dan sehampa sekarang,
tapi untuk apa aku terus bergulat dengan khayalan yang seperti itu. Lebih baik
sekarang aku bergegas sampai ke tempat kerjaku dan tenggelam bersama milyaran
kata yang ingin tertuang di atas kertas putih untuk dijadikan sebuah karya yang
sangat berharga. Ah benar bekerja adalah satu-satunya cara agar aku tak larut
lagi dalam keadaan yang seperti itu lagi.
***
Waktupun tak terasa sudah mau menginjak sore hari. Ku lirik
pergelangan tangan sebelah kiri untuk melihat jam. Ah ternyata sudah pukul 4
sore, ku bereskan semua peralatan di meja kerjaku dan bergegas untuk pulang.
Akan tetapi sebelum itu ku putuskan untuk mampir dulu ke suatu tempat.
Sepanjang perjalanan ku berpikir, sekarang apalagi yang harus ku
bawa dan ku lakukan ketika sampai di tempat itu. Haruskah ku menangis seperti
yang sudah-sudah sembari menelungkupkan kepala pada kedua lututku. Atau
haruskah ku lontarkan makian yang begitu tajam dengan begitu kejam meskipun hal
tersebut akan menjadi sebuah kesia-siaan. Ah rumit sekali memikirkan semuanya.
Daripada melakukan hal-hal yang sudah pernah ku lakukan lebih baik sekarang aku
membeli bunga itu dan membawanya ke tempat yang sering aku kunjungi setiap tanggal 21 Desember tiap tahunnya.
***
Ku dekap sebuah karangan bunga lili putih dengan penuh kebimbangan
sembari melangkahkan kaki menapaki jalanan setapak yang menanjak ke atas sebuah
bukit. Sekitar 10 menit melangkah dari bawah akhirnya aku sampai di atas bukit
tersebut lalu ku langkahkan lagi kedua kaki ini menuju sebuah pohon rindang
yang berdiri kokoh di pucuk bukit tersebut. ku hempaskan tubuhku di atas rerumputan
di samping pohon tersebut. Ku tolehkan kepalaku ke sebelah kiri dan yang
terlihat adalah ujung tebing yang curam yang langsung menuju ke laut di
bawahnya terhampar seperti 2 warna yang berdampingan tanpa pernah tercampur.
Lalu ku tolehkan lagi kepalaku ke seluruh penjuru bukit ini. Semuanya masih
sama seperti 6 tahun lalu, akan tetapi sekarang hanya ada aku yang terbaring
sendirian di atas bukit ini. Andaikan kau datang kembali dan menemui serta menemaniku
di sini akankah rasanya berbeda? itulah yang selalu menjadi pertayaan di dalam
kepalaku setiap tahunnya.
Sekitar 15 menit berlalu. Ku tegakkan kembali tubuhku dan mulai
melangkah mendekati tebing yang di sebelah kiri. Tak lupa ku bawa rangkaian bunga
yang ku beli tadi. Sesampainya di bibir tebing tersebut ku lemparkan rangkaian
bunga tersebut membiarkannya jatuh ke bawah. Akhirnya bunga tersebut jatuh dan
langsung di hempaskan oleh ombak yang mulai menggila menyambut senja yang
semakin mendekat.
“ Apa kau senang melihatku seperti ini terus???? Hah jawab aku...hiks...
Aku bosan... haruskah ku hentikan menunggumu di sini setiap tahunnya, dengan
bodoh mengharapkanmu kembali lagi kepadaku. Hiks...hiks...Hah haruskah ku
lakukan itu terus menerus. Jawab aku pembohong.
Hiks...hiks...hiks......” Teriakku terpecahkan suara ombak di bawah sana.
Luruh sudah pertahananku dan pada akhirnya akupun terduduk sembari
menelungkupkan kepala di antara kedua lututku sembari menangis dengan
tersedu-sedu. Lontaran makian masih ku sebutkan sambil terus meringis
memikirkan apa saja yang sudah ku lakukan selama ini. Ah andaikan waktu dapat
di putar ulang aku akan memohon untuk bisa kembali ke masa 6 tahun lalu, akan
tetapi itu semua tidak mungkin terjadi sampai kapanpun.
***
Ku dongkakkan kepala lalu
memutarkannya ke sebalah kiri dan yang ku lihat sekumpulan dandelion putih yang
sudah siap berguguran sepertinya. Ku petik setangkai dandelion lalu ku pandangi
bunga tersebut sambil membayangkan kenangan yang ku miliki denganmu dahulu.
Lalu akupun menyunggingkan bibirku membuat sebuah senyuman yang mungkin
terlihat sedikit sinis. Baiklah ku putuskan untuk meniupnya. Semoga dengan
begitu aku mampu menghapus setiap kenangan yang pernah kau torehkan di
kehidupanku. Ah bulu-bulu dandelion itupun perlahan berguguran dan terbang
meninggalkan tangkainya di bawa hembusan angin yang terasa dingin dan hangat di
saat yang bersamaan. Pergi menyebrangi lautan dan sampai di suatu daratan
mungkin. Atau malah jatuh di tengah lautan dan tenggelam masuk ke dalamnya.
Aku tau orang yang sudah pergi meninggalkan dunia ini tak mungkin
dapat kembali lagi meskipun kau melakukan apapun. Dan karena itu aku pun mulai
tersadar bahwa ketika kita melakukan semuanya dengan segala cara untuk
mendapatkan apa yang kita inginkan itu tidak akan terasa menyenangkan akan
tetapi itu akan terasa menyakitkan dan mengekecewakan yang jelas tak akan ada
ujungnya. Tapi ketika kita menyadari yang harus kita lakukan itu dengan cara
melakukannya secara ikhlas dan sabar serta mendasari semuanya itu dengan
percaya diri bahwa apa yang sudah kita dapatkan adalah hal yang terbaik untuk
kita maka itu akan terasa membahagiakan meskipun di awalnya terasa menyakitkan.
Ku tegakkan tubuhku kemudian dengan perlahan ku pandangi hamparan
alam yang terhampar di depanku dan ku tarik nafas sedalam-dalamnya dan
menghembuskannya secara perlahan kemudian ku sunggingkan senyuman tulus yang
sudah lama tak ku lakukan. Perlahan ku balikkan tubuhku dan mulai melangkah
meninggalkan tempat tersebut untuk pulang meninggalkan deburan ombak di bawah
sana dan sekumpulan dandelion yang berguguran di ujung tebing curam di bawah
langit senja yang mulai berterbangan di bawa angin untuk pergi ke tempat yang
lebih baik dan baru serta mungkin membawa setiap kenangan, penyesalan dan
harapan yang tak pernah dapat ku wujudkan sampai mati menjemputku.
***
Dandelion di penghujung
senja itu biarlah menjadi saksi alam yang menyaksikan perjalanan hidupku mulai
saat ini. Baiklah akan ku ubah semuanya bukan kemenangan yang akan menjadi
tujuan akhirku, akan tetapi hal-hal yang mendasari dan segala apa yang sudah ku
lakukan untuk melalui perjalanan kehidupan ini. Jadi tetaplah tersenyum, ikhlas
dan bersabar menjalani perjalanan ini serta yakin dan percayalah pada dirimu disertai
rasa syukur akan semua yang kau miliki dan dapat kau lakukan.
***
Haru pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Tanpa menyadari
sesorang yang bersembunyi di balik pohon sambil menutup mulut menggunakan
tangannya dengan air mata yang luruh membasahi pipinya. Kemudian setelah Haru
tak terlihat robohlah pertahanan diri yang dia tahan dari tadi. Menyebabkan
dirinya terduduk dan terlihat menyedihkan untuk ukuran seorang pria.
“Aargh.......Hiks...Maafkan....aku....Maaf.....Maaf....Maa....aaff....Aargh......” Racauan pria itu tak terkendali.
Sekilas Haru membalikkan tubuhnya menatap ke atas bukit, tapi
kemudian berbalik lagi dan melangkah untuk benar-benar pergi meninggalkan
semuanya di tempat tersebut. Hatinya merasakan kehadiran orang itu lagi. Tapi
ia sudah bertekad melupakan dan membiarkan semuanya memudar dan menghilang
dengan perlahan tanpa berniat mengenangnya lagi. Seorang pria lainpun
menghampiri pria yang tengah terduduk sambil menangis merenungi semua yang
telah ia lakukan kepada gadis tadi. Perlahan pria itupun menepuh pundak
temannya
“Sudahlah ikhlaskan semua yang telah terjadi. Jika ia memang
takdirmu, ia akan kembali kepadamu. Bukankah itu yang selalu kau bilang
kepadaku. Ayo kita pergi tinggalkan negara ini. Semuanya telah kau putuskan 6
tahun lalu. Jadi kenapa harus disesali. Ayo.” Ucap pria itu sembari merangkul
pundak sahabatnya dan mulai memapah tubuh lemah sahabatnya itu untuk
meninggalkan tempat tersebut.
Mereka berdua pun beranjak meninggalkan tempat tersebut sembari
membisu tak ada yang berniat untuk mulai berbicara seorang pun, seolah hanya
angin dan deburan ombak saja yang berbicara. Dandelion pun gugur tak bersisa
terbang menembus alam raya ini. Mereka menuju sebuah mobil mewah yang sudah
terbuka pintu belakangnya oleh seorang bodyguard.
“Tuan, ayo kita berangkat. Pesawat akan lepas landas dalam waktu 15
menit lagi. Saya mohon agar anda dapat segera masuk dan berangkat.” Ucap seorang
bodyguard di depan pria yang sedang di papah oleh teman prianya.
Dengan segera kedua pria tersebut pun memasuki mobilnya dan
pengawalnya pun bergegas meninggalkan tempat tersebut.
“ Maaf aku harus benar-benar menghilang dan pergi dari
pandanganmu. Sekali lagi maafkan aku. aku mohon.” Ucapnya sembari menatap senja yang mulai
menghilang di balik kaca jendela mobilnya yang sudah melaju dengan cepat di
jalan raya yang terlihat sedikit ramai.
end or tbc
***